kenary

just for fun , be your self

Ngorok Memicu dissfungsi ereksi

leave a comment »

Mendengkur (snoring) tak hanya mengganggu orang lain. Suara dengkuran yang dikenal sebagai ngorok itu juga mengganggu kesehatan. Ujung-ujungnya kemampuan ereksi bisa terganggu.

Mendengkur bisa menimbulkan gangguan pada penderltanya, seperti dialami Winarno setahun belakangan ini. Pria paruh baya ini sering merasa tercekik dan sesak napas hingga sulit tidur nyenyak. Akibatnya, saat pagi datang ia malah merasa lesu dan mudah mengantuk. Tidak hanya itu, tenggorokannya pun terasa kering dan jika meludah kadang disertal darah.

Oleh dokter ia kemudian disarankan untuk memeriksakan diri ke Klinik Mendengkur RSCM. Setelah didiagnosis, barulah ketahuan Winarno menderita masalah berhenti napas saat tidur atau yang kerap disebut Obstructive Sleep Apnea (OSA).

Untuk mengatasi masalah ini, Winarno harus menjalani operasi membuka sumbatan yang menghalangi sebagian jalan napasnya dan kemudian mempersempit bagian lidah yang terlalu lebar, yang juga menjadi penghalang pernapasan.

Setelah operasi, ia bisa tidur nyenyak tanpa terhenti napasnya lagi. Suara dengkurannya pun sudah tidak lagi mengganggu tidur orang lain.

Masalah mendengkur dan OSA seperti diderita Winarno juga dialami banyak orang. Meski seringkali dipandang remeh, masalah ini dapat menyebabkan suami istri terpaksa pisah kamar karena salah satu pihak tidak sanggup mendengar pasangannya mendengkur sepanjang malam.

Berbagai Komplikasi

Mendengkur adalah bunyi berisik udara yang kita hirup saat tidur. Bunyi ini timbul karena udara tidak bebas mengalir melalui mulut ataupun hidung.

Ada beberapa hal yang menyebabkan udara yang keluar masuk lewat saluran napas ini tak lancar. Pertama, karena alergi musiman, flu misalnya, hingga hidung tersumbat lendir. Kedua, akibat adanya pembengkakan pada tonsil atau adenoid, yaitu kelenjar yang terletak di bagian dalam kepala dekat dengan saluran napas, yang disebabkan oleh infeksi karena bakteri.

Jika seseorang mendengkur, yang harus diperhatikan adalah adanya gangguan tidur serius yang dikenal dengan OSA. Gangguan OSA merupakan berhentinya aliran udara pernapasan selama sepuluh detik atau lebih pada saat tidur.

Kejadian ini menimbulkan sejumlah komplikasi berbahaya, di antaranya penyakit hipertensi, jantung koroner, stroke, bahkan bisa menyebabkan kematian mendadak. Hal inilah yang menyebabkan mendengkur menjadi sesuatu yang perlu dicermati dan diwaspadai.

Selain dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya, menurut studi yang ada, mendengkur dan OSA dapat meningkatkan risiko hipertensi hingga tiga kali. “Kondisi seperti ini akibat berkurangnya asupan oksigen. Saat napas Anda tidak berjalan semestinya, kadar oksigen dalam darah akan berkurang. Akibatnya jantung akan bekerja keras dan tekanan darah naik. Dalam jangka lama, Anda akan kena hipertensi,” ungkap Dr. Syahrial MT, Sp.THT, dari Departemen THT RSCM.

OSA juga meningkatkan risiko penyakit koroner dan stroke hingga dua kali lipat. “Bahkan, OSA dapat memicu terjadinya ganggguan reproduksi dan seksual penderitanya,” ujarnya.

Kurang tidur dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen. Menurut Dr. Syahrial, jika tubuh kekurangan oksigen, pembuluh darah di seluruh tubuh ikut terganggu dan menyebabkan aliran darah tidak lancar. Termasuk aliran pembuluh darah yang menuju ke bagian penis, yang bisa mengakibatkan gangguan ereksi. Kualitas sperma yang dihasilkan oleh pria juga menurun.

Kurang tidur karena gangguan OSA dapat pula menyebabkan penderitanya hilang konsentrasi, mudah marah, dan menurunkan gairah. “Jika hal tersebut terjadi, secara tidak langsung gairah untuk melakukan aktivitas seksual pun sirna,” katanya.

Pada kasus Winarno, gangguan OSA mengganggu pengobatan jantung yang sedang dijalaninya. “Jika selama ini banyak orang menganggap mendengkur hanyalah masalah sepele, sebaiknya mulai waspada. Mendengkur dan OSA dapat membahayakan jiwa sehingga disebut silent killer,” kata Dr. Umar Said Dharmabakti, Ketua Departemen THT FKUI-RSCM.

Disayangkan olehnya, kebanyakan orang tidak tahu tentang penyakit ini. “Jika sulit bernapas atau merasakan sesak di dada, dikira mengidap sakit jantung. Jika kepala sering pusing, dianggap tanda mengidap tekanan darah tinggi,” ujar Dr. Umar.

Ketahui Sebabnya

Mendengkur dan OSA umumnya terjadi pada orang dewasa, terutama pria berusia pertengahan dan menderita obesitas. Di Amerika Serikat, prevalensi OSA pada kelompok usia di bawah 40 tahun adalah 25 persen pria dan 10 hingga 15 persen perempuan.

Pada kelompok usia di atas 40 tahun, prevalensinya mencapai 60 persen pada pria dan 40 persen pada perempuan. Sejumlah faktor risiko lain adalah ukuran leher panjang dan penyakit genetik spesifik.

Jangan lupa, alkohol juga bisa menyebabkan terjadinya ngorok. Ini karena lidah dan otot-otot pada tenggorokan terlalu rileks, sehingga menghambat atau memblokade proses mengalirnya udara di saluran napas dan mulut.

Mendengkur juga bisa muncul karena seseorang kelebihan berat badan. “Jika seseorang menderita OSA karena obesitas, berat badannya harus dikurangi dahulu sebelum tindakan medis lain dilakukan,” katanya.

Pada anak-anak, OSA umumnya disebabkan pembesaran amandel. Hasil penelitian terkini menunjukkan OSA juga disebabkan lokasi penyumbatan saluran napas atas yang terjadi lebih dari satu titik.

Ada dua cara menentukan seseorang terkena OSA atau tidak. Pertama, pemeriksaan ENT (ear nose, throat) atau telinga, hidung, tenggorokan untuk melihat seberapa besar sumbatan yang terjadi di tenggorokan dengan alat nasolaringuskopi.

Kedua, pemeriksaan di laboratorium tidur untuk mengobservasi seberapa banyak seseorang mengalami henti napas dan seberapa rendah kadar oksigen yang bisa dihirup saat tidur. Dinyatakan apnea bila pasien berhenti bernapas lebih dari 10 detik dengan tenggang waktu kurang dari 10 detik. Sementara hipoapnea adalah keadaan berkurangnya separuh dari aliran udara.

Terdapat satuan nilai yang disebut apnea hipoapnea index atau AHI yang menggambarkan banyaknya periode apnea dan hipoapnea per jam. Nilai AHI lebih dari 10 menunjuk pada kondisi abnormal, sedangkan AHI 50-80 mencerminkan OSA yang berat.

Pemeriksaan ini biasanya menggunakan alat bernama polisomnografi yang membutuhkan waktu semalam, sehingga pasien harus menginap di laboratorium tidur. Dengan pemeriksaan ini pula, dokter akan menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan.

Terapi Bedah dan Nonbedah

Mendengkur dan OSA dapat diatasi dengan berbagal terapi, baik bedah maupun nonbedah. Meski ada obat-obatan yang bisa digunakan sebagai pereda dengkuran, yang terbaik adalah menyingkirkan penyebab utama. Bila mendengkur akibat kegemukan, pasien harus mengurangi berat badan. Jika terjadi karena gangguan THT, yang harus dilakukan adalah memperbaiki kondisi THT-nya. Contohnya merapikan gigi, karena gigi yang tidak teratur juga bisa menyebabkan orang mengorok.

Pada kasus mendengkur ringan, pasien biasanya akan disarankan untuk mengubah perilaku dan kebiasaan hidupnya. Antara lain dengan lebih aktif berolahraga, mengurangi rokok, rutin melakukan latihan pernapasan, dan rileksasi.

Kalau kelainan tidak ditemukan dan orang tetap mengorok, akan dilakukan pemasangan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Alat ini terdiri dari masker dan kompresor yang digunakan ketika pasien beranjak tidur.

Cara kerjanya, masker ditutupkan ke hidung. Lalu, ke dalam masker dialirkan udara bertekanan tetap dan kompresor, sehingga jalan napas tetap terbuka. Berkat alat ini pengorok biasanya tak akan mengorok lagi dan bangun tidur dalam keadaan segar.

Alat CPAP terbaru dapat menyesuaikan pola napas alami dan memiliki beberapa keistimewaan, seperti lebih nyaman dan mudah digunakan serta lebih praktis karena bentuknya kecil dan ringan dibandingkan CPAP generasi sebelumnya. Sementara itu, terapi bedah dilakukan dengan berbagai metode yang disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahan pasien.

Cara Sederhana Bebas Dengkur

Bisa dibilang, hampir sepertiga hidup klta digunakan untuk tidur. Umumnya kita tidur enam hingga delapan jam per hari. Menurut Dr. Damayanti Soetjipto, Sp.THT, dari Departemen Telinga, Hidung, dan Tenggorokan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo, tidur memberi kesempatan tubuh untuk regenerasi, mengganti sel-sel rusak, dan menyembuhkan penyakit.

Sampai sekarang, banyak sekali cara yang disajikan buat kita untuk mengurangi dengkuran. Beberapa hal sederhana untuk mencegah ngorok antara lain:

Hindari minuman beralkohol saat menjelang tidur.
Alkohol membuat otot-otot tenggorokan, termasuk lidah dan uvula, menjadi rileks. Akibatnya, terjadilah penyumbatan saluran napas yang menimbulkan dengkuran.

Kurangi berat badan.
Kegemukan tidak hanya menyebabkan napas kurang lancar karena organ dalam seperti paru dan jantung tertimbun lemak. Organ lain seperti saluran napas, juga akan terganggu.

Ubah posisi tidur.
Satu posisi yang menyebabkan mengorok biasanya leher tertekuk akibat kepala terangkat terlalu tinggi atau orang tidur dalam posisi telentang. Jadi, lebih baik Anda tidak meninggikan leher saat tidur atau memakai bantal yang terlalu tebal. Biasakan tidur miring. Tindakan ini dapat mencegah lidah jatuh, sehingga jalan napas tidak terhambat.

Tanda-Tanda OSA

masalah OSA ini dapat dikenali dari gejala-gejala yang muncul pada malam maupun siang:

Gejala di siang hari:
• Bangun dengan perasaan tidak segar.
• Sakit kepala di pagi hari.
• Sakit atau nyeri tenggorokan pada saat bangun tidur.
• Mengantuk berlebihan di siang hari atau dikenal dengan Excessive Daytime Sleepiness (EDS).
• Rasa lelah berkepanjangan.
• Perubahan kepribadian.
• Gangguan konsentrasi dan ingatan.

Gejala di malam hari:
• Mendengkur dengan bunyi keras dan mengganggu.
• Napas berhenti di sela-sela mendengkur dan diakhiri dengan mendengus.
• Rasa sesak dan tercekik hingga membuat penderita terbangun.
• Tidur tidak nyenyak karena sering terbangun dan berubah posisi.

Mereka yang memiliki gejala-gejala di atas disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter agar segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Written by kenary

Juni 3, 2008 pada 2:29 pm

Ditulis dalam artikel

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: